Harapan Adalah Candu bagi Orang-Orang Kalah

“Ris, Ibuk minta tolong teleponin nomer ini,” kata Ibuk saya sembari menunjuk sederet nomor dalam kolom iklan di koran. Saya mengikuti telunjuk Ibuk dan melihat apa yang sebenarnya Ibuk saya ingin hubungi.

Di dalam kolom iklan kira-kira tertulis begini:


‘KERJA SAMPINGAN MENGELEM BENANG TEH

BISA DIKERJAKAN DI RUMAH

5 Kotak Upah 500rb

cp: bla bla bla

alamat kantor: bla bla bla’



“Buk, ini iklan gak jelas.”

“Gak jelas gimana, Ris?”

“Masa ngelem benang teh gini aja upahnya 500 ribu.”

“Ya, kan, bagus, Ris. Buat nyari tambahan uang, kan, enak bisa dikerjain di rumah. Nanti pas kamu pulang kuliah bisa bantu-bantu Ibuk.”

“Tapi ini gak jel…”

“Coba dulu!”

Saya tahu iklan ini mencurigakan. Saya selalu secara otomatis mengambil sikap sinis terhadap hal yang terasa terlalu baik buat jadi kenyataan. Tapi saya tak tega membantah Ibuk. Saya tak tahu juga bagaimana cara menerangkan kecurigaan saya kepada beliau dengan sesederhana mungkin agar Ibuk bisa mengerti. Akhirnya, saya cuma bisa pasrah dan manut kepada Ibuk.

Saya menelepon nomer yang tertera.

“Halo, Mbak, iya, iya, baik, saya akan datang ke kantor saja untuk lebih jelasnya, ya. Terima kasih.”

“Jadi gimana, Ris, katanya?” tanya Ibuk.

“Disuruh datang langsung ke kantornya, Buk.”

“Ya, sudah, habis ini kamu anter Ibuk ke sana, ya.”

“Tapi, Buk. Ini iklan gak jel…”

“Kalau kamu gak mau nganter. Ibuk bisa berangkat sendiri naik angkot.”

Duh.

Dengan terpaksa saya mengantar Ibuk ke kawasan ruko di seberang Mall BG Junction, Surabaya. Saya memarkir motor. Saya masuk ke sebuah ruko yang untuk ukuran sebuah kantor sebenarnya terasa sangat ganjil secara tampak mata.

Keganjilan pertama, plang nama kantor di bagian depan seperti cuma ditempel sekadarnya saja dan tidak permanen. Begitu pula dengan tulisan berupa kutipan motivasi-motivasi soal kesuksesan yang dipasang di dinding-dinding cuma terbuat dari banner yang diikat dengan tali rapia biasa.

Keganjilan kedua, perabotnya terlalu minimalis untuk ukuran kantor. Cuma ada dua meja di kantor tersebut; satu di lantai bawah dan satu di lantai atas. Seingat saya cuma ada dua lemari kayu di lantai atas yang berisi sampel teh yang harus kami lem benangnya. Selebihnya dibiarkan kosong begitu saja.

Saya mencoba berpikiran positif saja, mungkin CEO kantor ini penggemar berat Marie Kondo. Barangkali pikiran buruk yang datang cuma karena perut saya lapar belum sarapan. Barangkali segala kebusukan dunia hanyalah khayalan yang dibikin-bikin kepala saya. Barangkali kemuraman muncul karena saya kurang ibadah sehingga hati saya dipenuhi kegelapan. Barangkali…

“Tunggu di situ, ya, Mas. Nanti akan dipanggil lagi,” kata Mbak-Mbak Administrasi setelah Ibuk menunjukkan KTP dan menyuruh saya menulis nomer hape (karena Ibuk tidak punya hape dan tidak bisa hapean) dalam sebuah buku. Tentu saja saya mengisi nomer hape secara asal.

Saya dan Ibuk duduk di sebuah kursi plastik yang ada sandarannya. Di sebelah saya terdapat kakek yang menenteng sebuah kresek putih berisikan uang. Di sebelahnya lagi terdapat ibu-ibu yang membawa anak kecil usia sekitar lima tahunan. Saya melihat ke luar jalan, seorang ibu-ibu tua turun dari angkot, berjalan dengan tertatih-tatih kemudian masuk ke dalam kantor ini.

Ibuk kemudian dipanggil naik ke lantai atas dan masuk ke dalam sebuah ruangan. Saya membuntutinya. Seorang wanita berpakaian necis mempersilakan kami duduk.

“Jadi, begini kerjanya….”

Si wanita necis mengambil sekotak teh dan menaruhnya di hadapan kami. Dia mengeluarkan seuntai benang dan sepotong kertas, “Yang Ibuk perlu lakukan cuma menekuk kertasnya seperti ini … menyelipkan benang di celah tekukan … mengoleskan lem di permukaan kertas dan ujung benang … dan selesai!”

“Cuma begitu?” tanya saya kemudian.

“Ya, semudah itu, Mas,” jawab si wanita necis. “Hanya saja, kalian mesti memenuhi target bulanannya.”

“Berapa targetnya?”

 “Sebulan lima puluh kotak, Mas. Kalau berhasil memenuhi target akan dapat uang lima ratus ribu. Kalau kurang satu saja, maka uangnya akan hangus.”

“Hangus maksudnya?”

“Ya, tidak dapat apa-apa, Mas.” 

Ini bisnis yang gila. Saya menyenggol lutut Ibuk dan memberinya kode agar beliau lekas pergi dari tempat busuk ini. Tapi dasarnya Ibuk saya begitu polos dan naif, dia malah menimpali lagi.

“Cara daftarnya bagaimana, Mbak?”

 “Ibuk mesti membayar 500 ribu untuk membeli produk ini … kalau Ibuk mengajak orang lain buat bergabung akan mendapat tambahan pendapatan sejumlah …”

“Saya kok tidak pernah lihat produk ini dijual di Indomaret, ya, Mbak?” sela saya.

Si wanita necis langsung merengut. Tatapan matanya jadi agak sinis kepada saya. Dengan tampang agak kesal, dia menjawab pertanyaan saya, “Ya, Mas. Memang produk ini hanya dijual di toko-toko khusus.”

“Kok saya tidak pernah lihat iklannya di tivi?”

“Ya, memang hanya beriklan di koran dan lewat mulut ke mulut, Mas. Jadi, bagaimana, Ibuk-nya tertarik bergabung?”

“Bayar 500 ribu, ya, Mbak? Wah, uang saya kurang ini,” jawab Ibuk. Ibuk lalu menarik lengan saya sebagai kode agar saya menambahi sisanya. Saya bilang kepada Ibuk bahwa saya sedang tidak bawa uang. Saya harus mengambil uang di ATM dulu. Saya lalu melenggang meninggalkan si wanita necis dan mengajak Ibuk keluar dari kantor terkutuk tersebut.

Di parkiran, saya membisiki Ibuk sesuatu, “Buk, kita pulang saja. Ibuk tidak usah mikirin uang. Nanti biar aku saja yang nyari lowongan kerja yang lebih masuk akal.”

Ibuk cemberut mendengar apa yang saya katakan.

Sesampainya di rumah, Ibuk langsung mengambil wudlu dan melaksanakan salat. Saya sibuk membaca buku sambil sesekali mengintip Ibuk salat. Usai Ibuk salat, beliau menengadahkan tangan dan berdoa begitu khusyuk. Samar-samar saya mendengar penggalan doa yang Ibuk panjatkan, “Semoga Kau berikan rahmat berupa surga kepada hamba dan sekeluarga…”

Saya tak peduli-peduli amat soal surga itu ada atau tidak. Tapi jika benar-benar ada kehidupan setelah mati, saya berharap neraka itu benar-benar nyata. Saya berharap bahwa siapapun manusia yang bertindak jahat kepada manusia lain mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya.

Manusia menciptakan harapan untuk mengatasi kegelisahannya terhadap hal-hal yang berada di luar kuasa dirinya. Sebentuk pengakuan atas segala kedaifan diri, sekaligus penghiburan diri bahwa hidup yang begitu singkat dijalani ini memiliki sedikit arti yang layak buat diperjuangkan. Jauh dari lubuk hati yang paling dalam, saya berharap semoga Tuhan tidak mengecewakan harapan Ibuk saya. 

Beberapa hari berikutnya, saya mendapat kabar bahwa bisnis mengelem benang teh merupakan modus penipuan berbentuk MLM yang banyak memakan korban orang-orang miskin. Kasusnya sudah banyak terjadi di daerah-daerah lain. Saat saya melintas di kawasan BG Junction kembali, kantor yang pernah saya datangi pun kini sudah kosong melompong tak ada tanda-tanda aktivitas lagi. Penggalan lagu seketika bergaung di kepala saya…

Di kamar aku berkaca

Tampak wajah yang asing

Menertawakanku…

(Iwan Fals – Orang-orang Kalah)

Saya berharap…

(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s