L o n e l y Poor Surabayan

Saya ingin menonton film Crazy Rich Asian. Agar lebih bisa menghayati, saya putuskan untuk menonton film tersebut di salah satu mall tempat para #CrazyRichSurabayan biasa menghabiskan waktu dan menghabiskan uang mereka dengan duduk-duduk sambil tertawa lepas di tempat macam Excelso atau Starbuck atau nama-nama lain yang selalu membuat saya sedih saat melihat daftar menu dan harganya. Berjalan-jalan di tempat macam ini selalu membuat saya merenung, bagaimana mereka bisa sekaya itu? Apa yang mereka lakukan yang tidak dilakukan oleh orang tua saya? Mengapa Starbuck bisa dengan mudah membuka gerainya di tempat seelit mall ini di saat teman-teman ayah saya–para pedagang kaki lima–justru masih sering bermain petak umpet dengan Satuan Polisi Pamong Praja? Mengapa toilet mall bisa sedingin ini sedangkan rumah-rumah di Kampung Seng terasa begitu panas menyengat saat siang hari?

Apa sebab terjadinya jurang besar semacam ini?

Pendidikan? Kerja keras? Keturunan? Nasib?


Tai.

Sebuah pesan masuk.

‘Ris, jam 7 aku hrs blik ke pndok. Ada pengajian dadakan ….’

Seorang satpam membuka pintu bioskop. Saya melihat daftar film dan jam tayangnya; Crazy Rich Asian tayang jam 17.00 dengan durasi nyaris dua jam. Jadwal azan Maghrib 17.25 dan azan Isya 18.35

Tai.

‘aku udh di dpan foodmrt.’

Saya menghampirinya. Seorang wanita acak yang saya kenal dari tinder.

“Makan aja, yuk.”

Ya, mari makan di sini. Itu ide yang bagus. Di rumah saya sudah banyak baca artikel mengenai teknik bertahan hidup dari serangan jantung tiba-tiba dan belajar teknik berakting kesurupan secara alamiah. Semua berjalan sesuai rencana.

Ia melirik ke arah Yoshinoya.

“Jangan di situ, mending kita ke lantai bawah. Ada tempat makan enak, namanya Yoshimitsu,” sambar saya secara asal dengan menyebut salah satu tokoh dalam gim Tekken, dan alhamdulillah, memang benar tidak ada tempat yang menjadikan Yoshimitsu sebagai nama brand-nya.

“Kayaknya di sini enak,” dia berjalan masuk ke Ichiban Sushi.

Saya membuka daftar menu. Tak ada satupun menu yang pernah terbayang dalam kepala saya untuk dimakan saat saya lapar.

“Saya pesan Hot Ocha satu, tolong tidak usah pakai gula ya. Saya sedang mendalami seni meditasi Zen.”

Saya tak paham dengan apa yang saya katakan. Tapi satu hal yang saya dapat pikirkan, saya ingin segera mencoba mempraktikkan teknik kesurupan yang telah saya pelajari dalam waktu dekat.

Tai.

Saya mengobrol dengan wanita yang baru saya kenal ini–seorang wanita blasteran India dengan Lamongan alun-alun. Sebuah kombinasi yang sama anehnya dengan kombinasi Jokowi dengan Kyai Makruf Amin atau Prabowo dengan Sandi.

“Kakak lakiku punya usaha jas gitu ndek Jakarta. Kakak perempuanku jadi pramugari. Gajinya 30 juta.”

Saya bersyukur menjadi anak tunggal sehingga tak perlu menimpali pernyataan semacam ini. Sembari mendengarkan dia mengobrol, saya iseng stalking akun instagramnya.

“Wah, kamu pernah ke Gunung Fuji, ya, ternyata.”

“Ya, aku bulan kemarin liburan ke sana sama kakakku.”

“Wah, aku kemarin liburan juga ke gunung, loh.”

“Gunung mana?”

“Gunung Anyar, maen PS sama Shofyan.”

“Shofyan siapa?”

“Ada lah pokoknya. Dia gak masuk 10 orang penting yang namanya pantas diingat kok hehe.”

Saya melihat kondisi sekitar dan mencoba memperhitungkan apakah sekarang adalah waktu yang tepat untuk mencoba melakukan teknik kesurupan alamiah.

Tai.

“… aku benci sama temen-temenku yang mau temenan sama aku cuma karena aku pakai porsche dan pakai i phone.”

Saya menyanyikan sebuah lagu untuknya;

‘You lose your way, just take my hand

You’re lost at sea, then I’ll command your boat to me again

Don’t look too far, right where you are, that’s where I am

I’m your man

I’m your man’ (1)

… dalam hati.

“Aku sih gak peduli soal materi. Aku suka laki-laki mah yang penting dia baik …”

Yes.

“… dan bisa mengimbangi kakak-kakakku.”

Tai.

Pukul 18.35.

Tak kedengaran suara azan sama sekali.

Para #CrazyRichSurabayan masih duduk-duduk dan tertawa lepas di tempat macam Excelso atau Starbuck atau nama-nama lain yang selalu membuat saya sedih saat melihat daftar menu dan harganya. Pelayan menyodorkan tagihan.

“Biar aku aja yang bayar,” kata saya. Saya melihat tagihan. Ah, bukan masalah. Saya bisa berpuasa daud beberapa hari ke depan.

“Ah, nggak usah, ini biar aku bayar sendiri.”

Entah kenapa saya merasa saat-saat semacam ini adalah saat di mana Tuhan terasa sekali keberadaannya. Malaikat turun dengan sayap bercahaya. Tak ada desir angin. Waktu terasa melambat. Saya melihat ke arah wanita yang baru saya kenal. Saya melihat ke arah para #CrazyRichSurabayan.

Saya tahu apa yang harus saya lakukan.

Saya harus segera memborong saham Teh Sisri Gula Batu. Saya akan menjalankan bisnis mengelem benang teh. Saya akan segera mengikuti seminar Tung Desem Waringin. Saya memasang target bahwa tiga tahun ke depan saya sudah harus memiliki sepetak rumah di tengah jalan Tol Waru dan membeli sebuah pesawat ulang alik dan menikahi wanita ini.

Kami pulang dan saya mengantarnya dengan motor Supra X vintage keluaran pasar maling. Sepanjang jalan saya masih menyanyikan lagu yang sama.

Malam harinya saya nyangkruk dengan Shofyan di warkop Paradoks sembari asyik menyanyikan penggalan lirik lagu kebangsaan kami berdua.

‘But i’m a creep

I’m a weirdo …’ (2)

Suasana yang syahdu membuat saya tak pernah ingat lagi segala hal tentang bisnis mengelem benang teh, membeli pesawat ulang alik, seminar Tung Desem Waringin, dan menikah dengan wan …

Ah, saya rasa saya telah menemukan jawaban dari pertanyaan saya di awal.

Tai. (*)

1) Lana Del Rey – Mariners Apartment Complex
2) Radiohead – Creep

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s